Kamis, 24 Desember 2009

Kutitipkan Ibuku pada-Mu ya Allah

"Nak, bangun, ayo sudah adzan Subuh, shalat jangan sampai kesiangan. Sarapanmu juga sudah ibu siapin di meja, Ayo bangun cepat..."

Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun bahkan lebih, sejak pertama kali aku bisa mengingatnya.

Kini usiaku sudah 32 tahun dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.

"Ibu sayang... gak usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku sekarang khan sudah dewasa" pintaku pada Ibu pada suatu pagi.

Wajah ibuku kelihatan langsung berubah. Juga ketika Ibu mengajakku untuk makan siang di sebuah Restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, dengan maksud ingin menyenangkan dan membahagiakan bu serta mentraktirnya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku sendiri. Raut muka sedih itu tidak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ?

Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel majalah yang pernah kubaca, konon katanya orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakannya malah membuat Ibu-ku sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,

" Bu, maafin aku ya, kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih selama ini? "

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana .

Terbata-bata Ibu berkata,

"Selama ini di mata ibu kalian tidak berubah, sama seperti kalian masih kanak-kanak dulu. Tiba-tiba sekarang Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu di samping kalian. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan pagi untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi mentraktir kalian di Restoran.

Semua sekarang sudah bisa kalian lakukan sendiri "

“Bukan begitu bu, tapi….......a....a...…,”, aku tak sanggup meneruskan kata-kataku kala kulihat air mata ibuku mulai menetes.

Ya Allah, aku berharap air mata itu tidak membuatku berdosa. Kni aku sadar, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan baginya.

Satu hal yang tak pernah aku sadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua kita menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenung sembari bermuhasabah. ..
Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ?
Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ?
Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,

"Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian lahir dengan selamat dan tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan yang luar biasa buat ibu. Kalian menangis dan merengek kala minta digendong atau minta dibelikan mainan adalah kebahagiaan buat ibu. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian menurut dan tidak pernah membantah semua perkataan ibu dan ayah kalian, itu juga kebahagiaan besar buat ibu. Kalian shalat malam dan mengaji serta shalat Dhuha setiap hari, itu juga kebahagiaan yang teramat besar buat ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba Allah, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan ibu"

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,

" Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.

Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk shalat tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan serta seragam Sekolah kami sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...

Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

" Nak... bangun nak, sudah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu erat-erat dan sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,

" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...".

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. “Cintaku ini milikmu, kebahagiaan ini milimu juga”

Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabatku,
Banyak hikmah dari kisah di atas, antara lain..ternyata ibu kita sama sekali tidak mengharapkan pemberiankita tidak. Beliau sama sekali tidak mengharapkan materi dari kita untuk membahagiakannya. Kita menuruti semua perkataan beliau dan tidak pernah membantah adalah lebih berarti dari berjuta rupiah pemberian uang kita padanya. Kita rajin shalat malam dan mengaji serta shalat Dhuha setiap hari, itu juga kebahagiaan yang teramat besar buat ibu yang tidak dapat dibandingkan dengan pemberian sebongkah berlian kita padanya. Kita berprestasi di pekerjaan dan berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba Allah, itu juga merupakan kebahagiaan buat Ibu yang tidak dapat digantikan dengan kita membelikannya Istana beserta isinya.

Sahabatku, bagi anda yang masih memiliki Ibu, Bahagiakanlah ia, bukan dengan materi, tapi ia akan merasa lebih bahagia kalau kita menelepon dia, mengunjunginya, memijit kaki-nya dan menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengannya.

Sahabatku, bagi anda yang kebetulan Ibundanya sudah wafat, Bahagiakanlah dia di alam sana dengan cara mendoakannya setiap habis shalat, menziarahi makamnya, mengaji Yaa siin atau Al Qur’an untuknya, mengirimkan Al Fatihah dan mengunjungi kerabat dan sahabat2 beliau serta bersedekah untuk almarhumah ibunda.

Dengan cara itulah ibunda kita akan bahagia.

Wallaahua'lam bissawab

"Ya Allah, cintai Ibuku,sayangilah ia selalu, izinkan aku untuk bisa membahagiakannya, selagi beliau masih hidup dan jika saatnya nanti Ibuku Engkau panggil ya Rabb, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan lpatgandakanlah segala amal kebaikannya serta sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku masih kecil " Amiin

”Ya Allah, aku punya pinta, Kutitipkan Ibuku pada-Mu ya Rabb”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar